Awal mula Wedivo
Semuanya berawal dari satu spreadsheet yang sudah dicetak empat kali.
Bukan dari slide ukuran pasar. Dari pernikahan sungguhan, daftar tamu sungguhan, dan kekacauan biasa yang tak pernah diperingatkan ke calon pengantin.
- 1
Pernikahan yang memulai semuanya
Semua alatnya ada. Tidak ada satu pun yang tersambung.
Seorang teman menikah di Purwokerto. Undangannya bagus — ada yang membuatkan, mengirim tautannya, dan selesai sampai di situ. Semua yang terjadi setelah tautan itu jadi urusan pengantinnya sendiri.
Daftar tamu ada di spreadsheet. Konfirmasi kehadiran berserak di grup WhatsApp. Denah kursi berupa kertas cetakan dengan nama-nama dicoret tiga warna pulpen. Anggaran ada di aplikasi catatan yang hanya bisa dibuka satu orang. Lima alat, lima salinan dari 400 nama yang sama, dan tak satu pun tahu isi yang lain.
Dua malam sebelum akad, satu meja berubah. Denah digambar ulang. Kartu nama dicetak ulang. Tidak ada yang memberi tahu penerima tamu, jadi di hari-H seorang tamu diantar ke kursi yang sudah tidak ada. Hal kecil. Tapi itu hari pernikahan seseorang, dan sebenarnya bisa dihindari.
- 2
Titik baliknya
Produknya bukan undangan. Produknya daftar tamu.
Selama ini kami berpikir seperti pasar berpikir: undangan pernikahan itu satu halaman cantik yang dibeli sekali. Padahal halaman cantik adalah bagian paling kecil dari pekerjaannya. Ia hanya pintu depan dari sistem yang harus dijalankan calon pengantin selama setahun — lewat HP, biasanya malam hari, biasanya sambil tetap bekerja penuh waktu.
Hampir semua yang bikin pusing berhulu di satu daftar nama: siapa yang datang, membawa siapa, duduk di mana, dapat souvenir apa, sudah hadir atau belum, dan ada di foto yang mana. Benarkan daftar itu sekali, dan semua masalah lain berhenti jadi pekerjaan mengetik ulang dan kembali jadi keputusan.
Jadi kami membangunnya terbalik dari kebiasaan. Daftar tamu lebih dulu. Undangan digantungkan padanya.
- 3
Membangunnya
Ditulis di samping pernikahan sungguhan, bukan di ruangan yang jauh dari sana.
Setiap fitur Wedivo berawal dari sesuatu yang dikerjakan manual oleh calon pengantin, atau oleh WO yang menjalankan harinya. Check-in QR lahir dari penerima tamu berpapan jalan yang tidak tahu siapa yang sudah masuk. Kanvas denah kursi lahir dari kertas yang digambar ulang itu. Kamera disposable dan galeri foto yang mengenali wajah lahir dari satu pertanyaan yang muncul di setiap pernikahan: fotonya di mana?
Pembuat desain dengan AI justru datang belakangan, dan alasannya sederhana — mendeskripsikan pernikahan jauh lebih mudah daripada memilih dari 200 template, dan pasangan yang bisa menceritakan pernikahannya dalam satu kalimat mendapat hasil yang benar-benar terasa seperti mereka, dalam waktu sekitar semenit.
Semuanya kami uji seperti nanti dipakai: di HP, di Wi-Fi gedung yang buruk, oleh orang yang baru pertama kali melihat layarnya dengan empat puluh tamu mengantre di belakangnya.
- 4
Sekarang
Satu platform, dengan perusahaan yang berdiri di belakangnya.
Wedivo kini berbadan hukum Indonesia — PT. Wedivo Digital Solution — beroperasi dari Purwokerto dan melayani pasangan di seluruh Indonesia maupun di luar negeri. Seluruh platformnya tersedia dalam dua bahasa, karena separuh pernikahan di Indonesia punya daftar tamu yang tidak sepenuhnya berbahasa Indonesia.
Kami mempertahankan hal yang membuatnya berhasil sejak awal: pelanggannya adalah pasangannya. Bukan vendor, bukan gedung, bukan pengiklan. Tidak ada apa pun di Wedivo yang dijual ke tamumu, dan daftar tamumu tidak pernah jadi daftar kirim siapa pun.